Minggu, 29 Agustus 2021

Paklek Ada Dua


Hi sobat horror, kali ini aku akan menceritakan kejadian mencengangkan yang aku alami saat aku mulai tinggal bersama dengan nenek. Aku pindah ke desa karena bapak memutuskan untuk tetap tinggal dan bekerja di Sumatera Barat, kakakku mengikuti pendidikan militer di luar kota dan mamaku ingin bekerja ke luar negeri, tersisalah aku yang masih berusia 9 tahun saat itu. Awalnya aku tinggal dirumah sepupuku karena ada keponakan perempuan jadi ada temen main, namun karena nenek kesepian dan tinggal sendiri, jadinya mulai saat itu aku hidup berdua dengannya.



Rumah nenek sangat kecil, hanya terdiri dari 3 ruangan yaitu ruang tamu sebelahan dengan lemari pakaian, kamar sekaligus ruang makan dan dapur yang menghadap kamar mandi. Dindingnya papan yang disusun sejajar dan masih terdapat celah diantara susunannya, hanya seputaran kamar dan kamar mandi yang ditutup terpal dari dalam agar tidak terlihat dari luar, anehnya didalam rumah itu sangat hangat padahal lantainya pun masih tanah. Disebelah kanan rumah nenek ada pohon nangka yang sangat rimbun, samping kiri dan belakang rumah adalah kebun singkong, depan rumah nenek banyak kayu bakar untuk memasak sehari-hari. Jalanan depan rumah merupakan jalan kecil yang hanya muat satu motor bermuatan rumput buat pakan sapi atau kerbau.Mungkin kalau tanah di rumah nenek saat itu diratakan posisi rumah itu ada disisi perempatan jalan desa, karena tanahnya tinggi makanya rumah nenek terlihat diatas jalan (metongkrong bhs. jawanya wkwk).



Paginya aku mulai bersekolah di SD yang lumayan dekat dari rumah, setiap harinya aku berjalan kaki ke sekolah, tak lama bagiku untuk akrab dengan teman-teman, karena jumlah murid yang tidak banyak hanya 13 anak dikelas 5 saat itu. Oh iya di desaku ini masih kental sekali budaya dan adat jawanya, ada pula paguyuban kesenian kuda lumping yang cukup menarik perhatianku, akupun ikut bergabung menjadi anggotanya. Jadi kegiatanku pagi hari sekolah, bermain di siang hari, kemudian ikut TPQ di sore harinya dan malam hari sehabis isya' aku ikut latihan menari di sanggar. 



Latihan menari hanya satu minggu sekali pada hari rabu malam saja, dimalam lainnya biasanya aku ikut mengaji lagi di tempat saudaraku, padat sekali jadwalku yekan. Malam ini adalah jadwal latihan menari, sehabis ibadah temen samping rumah eh bawah rumah ya, kan rumah nenek diatas wkwk, dahlah pokoknya itu, dia menghampiriku untuk berangkat latihan bareng. Dari rumah kita hanya berjalan berdua, namun setelah berjalan cukup lama kita jadi beramai-ramai, karena temen-temen yang lain pada nunggu didepan rumah mereka masing-masing.



Jam 9 malam latihan selesai, karena esok hari kita harus sekolah. Kita bergegas pulang kerumah, satu persatu temenku berkurang, tinggal kita berdua yang tersisa karena rumah kita paling ujung. Saat kita sedang berjalan dengan sedikit rasa takut karena memang sepi dan penerangan jalan masih minim.


Aku melihat ada paklek duduk di tempat duduk panjang dari semen di pinggir jalan, kita langsung berlari menuju paklek dengan perasaan lega. Saat itu paklek memakai kaos dalam putih dan celana pendek berwarna abu-abu yang biasa dia pakai saat duduk di teras rumahnya, paklek hanya diam dan menunduk saja, kakinya menggantung dan tidak memakai sendal, aku sedikit terheran-heran karena berapa kalipun kita menyapa dia hanya terdiam tak menjawab ataupun melihat ke arah kita. Yasudah lah mungkin paklek capek pikirku.



Kitapun melanjutkan perjalanan dan tak lama kita sampai di perempatan bawah rumah nenek, kita pun berpisah dan aku berjalan naik keatas menuju rumah. Spontan aku menoleh ketika seseorang membuka pintu dan berdehem, ohh paklek. Akupun kembali menyapa paklek dan dibalas sapaanku dengan senyum diwajahnya. Aku berbalik dan akan masuk kerumah namun langkahku terhenti, aku kembali menengok ke belakang dan melihat paklek dengan kemeja hitam bergaris dan celana biru panjangnya sedang duduk di teras sambil menikmati secangkir kopi.

Lantas siapa yang aku dan temanku temui di jalan tadi ??

Sampai sekarangpun aku masih ingat betul penampilan dan raut wajah paklek saat duduk di pinggir jalan itu. Ini pengalaman pertama sejak aku tinggal bersama nenek. Nantikan cerita horror lainnya bersama nenekku, yang menularkan bakat indigo ini ke aku dan keponakanku yang masih kecil, pantengin terus blog ini untuk cerita selanjutnyaa.. babay

Disqus Comments